PERHIMPUNAN AHLUL HALLI WAL 'AQDI DUNIA

جمعيّة اهل الحلّ و العقد العالميّة

World Organization Of Disentangle And Bindings Experts

Muhammad Bardan Kindarto

SURAT TERBUKA KEPADA PARA ‘ULAMA DAN AHLI DZIKIR

Oleh: Muhammad Bardan Kindarto (1936–2016)

Penggagas Utama Perhimpunan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Dunia

 

Bismillahirrohmanirrohim

SURAT TERBUKA
Ditujukan Kepada
Yang dimuliakan Allah SWT
Yth: Ikhwan ‘Ulama dan Ahli Dzikir
………………………………………

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Terlebih dahulu puji-pujian kepunyaan Allah, dan shalawat serta salam kepada Rasulullah saw dan para shahabatnya serta seluruh para muttabi’nya.-

Adapun sesudahnya; Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Ikhwan, kiranya Allah senantiasa melimpahkan petunjuk dan pengayomanNya kepada hamba-hambaNya yang menjadi pemegang amanah para Rasul. Karena hanya kepada para Ulama-lah kepercayaan dalam bertaushiyah dan bertadzkirah sangat dinanti-nantikan oleh Ummat Islam dan masyarakat pada umumnya, mengingat bahwa kepada ‘Ulama-lah maka Rasulullah saw telah mempercayakan dan menitipkan Kebenaran Al Qur-an dan Al Hdits Shahih.-

Oleh karena itu sebagai kata awal dari maksud Surat Terbuka ini saya ingin mengajak untuk bertasyakur terhadap ni’mat dan pujian Allah yang diberikan kepada para hambaNya yang tepercaya untuk meneruskan panduan Rasulullah dalam mengemban amanah Ad-Din dan Ad-Dun-ya dalam rangka mengawal Ad-Din Al Islam menuju janji Allah, yaitu keberlakuan Hukum Islam secara muthlaq atas ummat manusia sedunia sampai akhir zaman, bahwa dalam keberlakuan Hukum Islam secara muthlaq nantinya, keberadaan manusia hanya terbagai dua, yaitu “Mukmin yang dimuliakan Allah dan Kafir yang dihinakan Allah” sebagai mana dinyatakan Rasulullah saw dalam Haditsnya berderajat shahih, sesuatu yang telah diisyaratkan Allah dalam Al Qur-an {qa33s9=at taubah}. Dan kemudian prosesnyapun telah dijanjikan dalam gambarannya menurut AlQur-an. {qa2s59=al hasyr}.-

Adapun sebenarnya Allah telah memberikan pujian yang bersifat khusus ditujukan kepada ‘Ulama sebagai mana difirmankanNya dalam Al Qur-an Surah Fathir 28{qa28s35}, yaitu:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ ۝٢٨

“Dan dari manusia dan binatang yang melata dan ternak ada yang berbeda-beda warna / jenis. Seperti demikianlah. Adapun sebenarnya  yang takut kepada Allah dari antara hamba-hambaNya  adalah Al’Ulama. Sesungguhnya Allah itu Yang Perkasa Yang Pengampun”.-

Dan disamping itu juga Allah memberikan pujian dalam keterkaitannya dengan Kebesaran Allah, yaitu kepada Ahli Dzikir atau yang dikenal dengan istilah Intellectual ‘Ulama melalui dua ayat dengan bunyi firman yang sama yaitu dalam Surah An Nahl 43{qa43s16} dan Surah Al Anbiya 7{qa7s21}, yaitu:

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٧

“Dan tiadalah Kami mengutus  sebelum kamu(Muhammad) melainkan laki-laki yang Kami beri Wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada Ahli Dzikir jika adalah kamu tidak mengetahui”.-

Maka dengan petunjuk firman sebagaimana tersebut dapat dirasakan tentang betapa penting kedudukan  “’Ulama Intellectual  dan Intellectual ‘Ulama” dalam pembangunan masyarakat dunia .Karena dengan dua golongan yang ditunjukkan oleh Allah tersebut akan berarti bahwa keberadaan Al Qur-an yang telah dinyatakan Allah sebagai penghapus keberlakuan daripada Kitab-Kitab terdahulu {qa106s2=al baqarah} maka Insya Allah secara positif menerima Ketetapan Allah sebagai Norma Hukum atas ummat manusia, sebagaimana difirmankan dalam Surah Al Jatsiyah 20 {qa20s45}, yaitu:

هٰذَا بَصَاۤىِٕرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ۝٢٠

“Ini (Al Qur-an) adalah Norma Hukum bagi ummat manusia dan petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sama yaqin”.-

Dengan mengambil beberapa ayat pokok tersebut,maka berarti ada keterkaitan erat dengan sejarah dari perjalanan masyarakat manusia dari masa kemasa yang tidak pernah terlepas dari panduan para Rasulullah, karena memang Allah menghendaki demikian, yang dengan itu akan menjadi pelajaran penting bagi para pemegang amanah dari para Rasul. Dalam sejarah dapat dibaca tentang betapa kerusakan ummat manusia dan betapa Allah telah meletakkan metode operasionalNya kepada para RasulNya, sehingga perbaikanpun dapat dilaksanakan dan diwujudkan dengan baik dan benar oleh para Rasul atas idzin Allah.

Untuk zaman muttakhir ini Allah tidak lagi mengutus Rasul setelah perutusan Muhammad saw yang dinyatakan sebagai penutup dari seluruh para nabi. Dan Allah tidak lagi menurunkan Kitab setelah penurunan Al Qur-an sebagai penuntas dari seluruh risalah yang terdahulu. Hal tersebut berarti tanggung jawab ummat telah dipercayakan Allah kepada hamba-hambaNya yang diberi julukan berupa pujian, antara lain “Khoiru Ummah ; Antum Al A’launa ; Ijtaba yang berarti Ishthofa”. Maka siapatah lagi yang dapat merasakannya selain dua golongan yaitu “ ‘Ulama Intellectual dan Intellectual ‘Ulama”. Bukankah perbaikan masalah masyarakat manusia dan kemanusiaannya telah diamanatkan kepada kedua golongan tersebut lantaran merekalah yang mengetahui keberadaan dan kehendak Al Qur-an dan Sunnah RasulNya.

Maka sekaranglah saatnya kekayaan negeri kita tercinta, keutuhan negeri kita tercinta, bangsa kita tercinta dan generasi penerus kita tercinta sangat mendambakan taushiyah dan bimbingan serta panduan para ‘Ulama Intellect dan Intellectual ‘Ulama; “Marilah menyatukan hati (bertansiq) dan bermudzakarah”, semoga Allah membimbing kita semua dan meredloinya.-

Hal tersebut saya sampaikan kepada ikhwan tercinta, ‘Ulama Intellectual dan Intellectual ‘Ulama, adalah sangat beralasan, antara lain:

  1. Bahwa dalam menanggapi kerawanan Dunia Islam, dengan tanpa mengabaikan berbagai upaya dan usaha yang telah dilakukan, sebagaimana telah ditandai dengan kehadiran Muktamar Alam Islami yang berpusat di Makkatul Mukarromah, dan juga Organisasi Konferensi Islam (OKI). Yang dalam kenyataannya belum menunjukkan prestasi yang dikehendaki oleh Islam, karena memang sesungguhnya penampilan Dunia Islam masih sangat memprihatinkan. Hal ini dikarenakan Pemerintahan Dunia Barat pada umumnya beranggapan bahwa Islam itu sebagai ancaman bagi mereka, yang hal ini membuat mereka dengan segala cara menginginkan terjadinya konflik yang berkepanjangan terhadap Negara-Negara Muslim dan Ummat Islam.

Menghadapi hal yang demikian, maka sangat penting untuk meng-agenda-kan faktor kemampuan mengantisipasi, dan kemampuan mengelola berbagai permasalahan, tantangan-tantangan, dan berbagai kecenderungan baru yang dirasakan oleh Dunia Islam dan Ummat Islam pada umumnya “dalam batas-batas yang dibenarkan menurut dan oleh Al Qur-an dan Al HaditsShahih”.-

  1. Wilayah Bumi Indonesia tercinta, yang dikenal sebagai Bumi Nusantara, yang merupakan wilayah paling strategis,yang subur dan kaya dengan segala macam sumber daya alamnya. Karena itu merupakan kewajiban muthlaq yang tidak dapat ditawar-tawar khususnya para ‘Ulama Intellect dan Intellectual ‘Ulama untuk dapat merumuskan metode operasional berdasarkan Al Qur-an dan Al Hadits Shahih, dengan maksud untuk mempertahankan dan mengembalikan aset bumi Indonesia tercinta dan kaya raya ini agar tetap menjadi kekayaan dan  warisan bangsa Indonesia dari generasi kegenerasi,dan menjadi bangsa yang besar dan dapat mengendalikan program kema- nusiaan kepada seluruh bangsa didunia.

Orang-orang yang tidak dilandasi iman tidak akan pernah ada rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan generasinya, dan mereka tidak akan pernah mau tahu terhadap makna kemerdekaan, sehingga mereka merelakan aset kekayaan bumi Indonesia dijual kepada bangsa asing. Dan bahkan mereka berupaya  untuk memecah-mecah negeri tercinta ini menjadi  terbelah-belah, terpisah-pisah dan terpetak-petak. Dan akhirnya akan memberikan peluang terhadap bangsa asing untuk mendominaasi dan mensuburdinasi Ummat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya; Padahal yang sebenarnya, kenyataan sejarah telah memberikan bekas yang jelas, bahwa “kemerdekaan yang dicapai oleh Bangsa Indonesia adalah melalui pembayaran dan pengorbanan yang sangat dan paling mahal bagi perjalanan sejarah suatu bangsa”.-

  1. Bahwa sesungguhnya bila tiada Nabi maka tiada akan pernah ada Al Qur-an, dan sudah barang tentu pula tidak akan mungkin Allah menurunkan Islam. Dan kita sebagai ummat Rasul tidak akan pernah kenal tentang Islam; Akan tetapi suatu kenyataan telah terjadi, yaitu keanehan, apabila ada orang yang menerima Islam akan tetapi tidak mau diajak untuk berpedoman dengan Al Qur-an dan Al Hadits Shahih.

Sebuah kenyataan, perjalanan masyarakat dunia Islam dizaman muttakhir sekarang ini, bahwa sebagian besar orang-orang yang menerima Islam akan tetapi mereka “menjadi karikatur sebuah peradaban”. Hal tersebut terjadi disebabkan merebaknya peradaban dari Dunia Barat sebagai Schyzophrenia Cultural (:peradaban gila) yang sangat mempengaruhi dan sudah merupakan ekspressi dominan dan universal ummat manusia yang penyebarannya melalui dan menggunakan senjata yang sangat ampuh dan dahsyat yaitu “Media”, khususnya televisi.-

Memang sesungguhnya peradaban Barat adalah berakar pada Sejarah Eropa, yang pandangannya terhadap dunia berkisar kepada persoalan-peersoalan Ras, identitas diri, dan kebangsaan. Dan mereka dalam hal ini sangat mengutamakan keunggulan bidang teknologi dengan menyingkirkan masalah moralitas dan agama. Dan hal ini secara kenyataan kita akui bahwa sepertinya ummat Islam  pada umumnya hampir tidak ada kemampuan untuk mempertahankan diri, dikarenakan ketiadaan kemampuan dalam memahami sifat dan tujuan daripada serangan Media tersebut.

Maka sebagai akibat yang dapat kita rasakan bersama antara lain sampai kini kondisi Ummat Islam masih belum ada kemampuan “dalam cara menjelaskan kerinduan untuk mencapai pemuasan beban harapan Sejarah”, dikarenakan sampai kini belum berhasil menemukan tentang caranya dalam menjelaskan agar Ummat Islam menerapkan keyakinannya tentang Islam ditengah masyarakat Indonesia pada khususnya dan masyarakat Dunia pada umumnya.-

Oleh karena itu dalam menanggapi sebagaimana tersebut, hendaknya difahami sebagai sinyal untuk jihad (bekerja keras/ bersungguh-sungguh) melaksanakan pembenahan-pembenahan dan perbaikan-perbaikan terhadap keadaan ummat melalui “proses Dakwah secara terprogram”, guna mengangkat bobot Islam kepermukaan pandangan ummat manusia,  dengan tujuan disamping mengantisipasi berbagai bentuk yang tidak Islami, juga mengajak seluruh komponen bangsa Indonesia untuk memperbaiki dan membangun kembali citra dan cita Islam, mengangkat bangsa dan negara Indonesia tercinta ini sebagai bangsa yang religious dimata Dunia Internasional dan menjadikan “Indonesia sebagai pusat keteladanan dalam membangun peradaban ummat manusia sedunia” menjemput Janji Allah sampai akhir zaman {qa33s9= at taubah} dengan keberlakuannya yang muthlaq atas idzin dan Kehenak Allah semata.{qa2s59=al hasyr}.-

Untuk itu dengan rendah hati dan mohon ampun kepada Allah, saya sebagai hamba Allah yang faqir untuk mengajak kepada para Ikhwan yang dimuliakan Allah, yaitu ‘Ulama Intellectual dan Intellectual ‘Ulama (Ahli Dzikir) untuk mengadakan “Mudzkarah bersama-sama” dalam rangka memusyawarahkan masalah yang sangat besar ini dalam kepentingan membangun kembali cita dan citra Islam menuju Rahmatan lil ‘Alamin bagi seluruh Ummat Manusia; Kiranya Allah akan meredloi dan melimpahkan segala apa yang telah menjadi JanjiNya dalam kehidupan dunia ini.-

“NASHRUN MINALLAHA WA FATHUN QORIB”

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,
Sumatera Selatan,29   Syawal   1426 H / 01 Desember 2005 M

Dari seorang hamba Allah yang faqir,
Muhammad Bardan Kindarto.
Ahlul Halli Wal ‘Aqdi.

Alamat:
Komplek Yayasan “AKUIS”Pusat
(Amanat Kesejahteraan Ummat Islam).
Jln.Raya Palembang – Betung. KM.14
Sukajadi. Sumatera Selatan.
Telp. 0711.432111.

Download PDF dibawah ini:

Surat Terbuka Kepada Para ‘Ulama dan Ahli Dzikir

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *