PERHIMPUNAN AHLUL HALLI WAL 'AQDI DUNIA

جمعيّة اهل الحلّ و العقد العالميّة

World Organization Of Disentangle And Bindings Experts

Panggilan Jiwa: Mengingat Janji Setia pada Sang Khaliq Sebelum Pintu Kesempatan Terkunci

(QS. Asy-Syura: 47)

اِسْتَجِيْبُوْا لِرَبِّكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهٗ مِنَ اللّٰهِ ۗمَا لَكُمْ مِّنْ مَّلْجَاٍ يَّوْمَىِٕذٍ وَّمَا لَكُمْ مِّنْ نَّكِيْرٍ

“Penuhilah seruan Robbmu sebelum datang dari Allah suatu hari (Kiamat) yang tidak dapat ditolak. Pada hari itu kamu tidak akan mempunyai tempat berlindung dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).

“Sebelum hari yang tak tertolak itu tiba, penuhilah seruan Robbmu.”

Kalimat itu bukan sekadar perintah. Ia adalah panggilan jiwa, suara yang mengingatkan kita akan sebuah ikrar dan janji ketika masih di alam ruh. Sungguh, hari itu akan tiba. “Hari yang tidak dapat ditolak (datangnya) dari Allah.” Sebuah terminasi, ketika panggung dunia yang fana ini berakhir, tirai digulung, dan setiap jiwa berdiri sendiri di hadapan Sang Pemilik segala hak. Maka, ayat ini adalah jam weker kosmik dari Ar-Rahman, membangunkan kita dari tidur panjang kelalaian: Masihkah kita ingat janji itu? Sudahkah kita menjawab panggilan-Nya?

Janji di Alam Ruh: Sebuah Kontrak Abadi

Sebelum kita mengenal dunia, sebelum kita menyebut nama, bahkan sebelum kita mengambil bentuk, Allah telah mempersaksikan sebuah perjanjian agung. “Bukankah Aku ini Robbmu?” tanya-Nya. Dan kita, seluruh ruh manusia, serentak menjawab, “Benar (Engkau Robb kami), kami menjadi saksi.” (QS. Al-A’raf: 172).

Itulah momen di mana kita, dalam bentuk kesadaran paling murni, berjanji setia untuk tunduk dan patuh. اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ  dalam Surah Asy-Syura ini bukanlah tuntutan baru. Ia adalah pengingat akan kesepakatan awal itu. Ketika lahir ke dunia dan memasuki usia taklif (dewasa), Allah tidak membiarkan kita lupa begitu saja. Gelombang ujian, kilauan karunia, dan keheningan jiwa adalah “pengingat berkala” untuk mengikatkan kembali komitmen kita. Tujuannya satu: menjadi muslim yang sebenarnya, mukmin yang sempurna imannya (QS. Al-Anfal: 4).

Membongkar Makna Iman: Bukan Sekadar Ikraran Bibir

Apa sebenarnya yang dituntut dari kita dalam memenuhi seruan ini? Kajian mendalam menunjukkan bahwa iman yang Allah kehendaki bukanlah status warisan atau pengakuan kosong. Ia adalah Iman Idz’ani (Haqiqi) – iman yang lahir dari pengenalan yang benar dan mendalam. Iman yang tidak statis, melainkan dinamis dan aktif.

Iman sejati itu memiliki tiga daya gerak yang tak terpisahkan:

  1. Ber-Tanzikh: Jiwa yang senantiasa menjunjung tinggi dalil dan keagungan Allah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan.
  2. Ber-’Ishmah: Kedisiplinan tinggi untuk hidup dalam koridor dalil dan hukum-Nya.
  3. Ber-Tashdiq bil Hukmi: Ketegasan dalam menerima dan membenarkan seluruh keputusan hukum-Nya, baik yang sesuai hawa nafsu atau tidak.

Inilah jalan yang jelas. Islam bukanlah sebuah aliran atau filsafat hasil olah pikir manusia, namun jalan yang terang benderang berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya (QS. Al-Hujurat : 1). Di sinilah tuntutan nyata bagi seorang mukmin dimulai.

Tiga Tuntutan : Merespon Panggilan dengan Totalitas

Memahami esensi iman mengharuskan kita untuk memberikan respons yang kongkret dan total. Seruan “Penuhilah seruan Robbmu!” menuntut tiga komitmen utama:

  1. Keikhlasan yang Total: Menyerahkan Segala-Galanya

Ini adalah landasan segala amal. Ikhlas bukan hanya soal niat. Ia adalah penyerahan total: lahir, batin, eksistensi, dan segala yang kita miliki di dunia, ke dalam jalan yang kita imani (QS. Az-Zumar: 11-13). Ini adalah proses menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan. Hati yang telah dikosongkan dari selain-Nya, akan lebih mudah diisi dengan petunjuk kebenaran dan kebajikan.

  1. Mengasah ‘Aqal yang Bertauhid: Fuad yang Terpadu
    Allah menganugerahkan kita ‘aqal, maka dituntut aktif dan hidup sehingga memengaruhi fuad (daya fikir) yang berfungsi sebagaimana mestinya:
  • Fuad Tamyiz: Daya untuk memahami, mendalami, dan menghayati Islam secara utuh, lalu mengamalkannya (QS. Al-Maidah : 16).
  • Fuad Nadhari: Kemampuan berpikir intelektual yang menyeluruh tentang alam semesta, merenungi ciptaan-Nya untuk menguatkan keyakinan (QS. Ali Imran: 190-191).
  • Fuad Tajribi: Kecerdasan eksperimental untuk menjadikan diri sebagai “umat terbaik” yang mengajak dengan kebaikan dan mencegah dari kemungkaran (QS. Ali Imran: 110).
  1. Menjaga Kesehatan Jiwa dan Semangat yang Tak Padam

Ibadah dan perjuangan di jalan iman memerlukan stamina ruhani yang kuat. Allah memerintahkan kita untuk bersabar, memperkuat kesabaran, dan selalu waspada (QS. Ali Imran: 200). Ini adalah resep untuk menjaga kewarasan batin di tengah badai kehidupan. Hati yang tenang dan semangat yang terjaga adalah bahan bakar untuk menunaikan seluruh kewajiban—baik moral maupun mental—dengan sempurna.

Penutup: Pilihan di Tangan Kita

Demikianlah, memenuhi tuntutan “Robb” dalam ayat ini adalah bukti nyata dari keterpaduan lahir dan batin seorang hamba. Ia adalah gerak langkah yang selaras dengan denyut hati, ibadah yang menyatu dengan keimanan. Inilah jalan untuk meraih keridhaan-Nya, tiket untuk kembali ke janji awal dengan penuh kemuliaan (QS. 89 : 27 – 30).

Sebaliknya, mengabaikan seruan ini, menunda-nunda respons kita, adalah investasi bagi sebuah penyesalan abadi di hari di mana tiada lagi tempat berlindung dan tiada alasan yang diterima (QS. 23 : 99 – 100).

Hari itu akan tiba. Pintu kesempatan ini masih terbuka

Maka, sekaranglah waktunya. Mari kita dengarkan lagi bisikan jiwa kita, jawablah panggilan-Nya dengan segenap totalitas, sebelum semua kesempatan itu lenyap untuk selamanya.

*Ringkasan KAJIAN KADERISASI MUBALLIGH SUNNAH YPD AKUIS (NO S6.1329.YPD.4523.027).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *