PERCATURAN KARAKTER DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DUNIA
Pedoman Pokok
- Berdasarkan petunjuk firman dalam Al Qur-an [Qs Al-Hujurat (49) : 13] tentang keberadaan ciptaan Allah atas ummat manusia yang terdiri dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku yang disertai tuntutan untuk melaksanakan interaksi positif (ta’aruf).
- Berdasarkan petunjuk firman dalam Al Qur-an [Qs Al-A’raf (7) : 160] tentang keberadaan Bani Israil setelah mengalami pembagiannya menjadi 12 suku untuk diangkat menjadi 12 bangsa Yahudi yang tersebar di berbagai belahan Bumi ini.
Penggalian Karakter
Dengan mempedomani pedoman firman sebagaimana tersebut, dapat difahami bahwa Sunnatullah telah menetapkan terhadap manusia sebagai makhluq sosial dalam tingkat lebih tinggi daripada makhluq lain, oleh karena Sunnatullah yang telah ditetapkan di Lauhin Mahfudz menetapkan agar ummat manusia hidup berbangsa dan berkabilah adalah untuk melaksanakan hubungan yang harmonis antara mereka sehingga tetap dalam kondisi “Ummatan Wahidah” akan tetapi perintah tersebut “dihadapkan berbagai ujian” yang tidak kecil berasal dari manusia yang berada dalam lingkaran syaithan, terutama dari sebagian pengikut Musa yang mudah terpengaruh dengan materi duniawiyah, sehingga mereka “melupakan terhadap penggelaran Taurat” dan disebutlah “Ahli Kitab”.
Maka dengan perubahan karakter yang dilandasi Kecenderungan Materialistik kemudian munculah pada kurang lebih 400 tahun sebelum Masehi, ahli-ahli fikir Yunani tentang sistem berbangsa dan bernegara berdasarkan Sejarah Yunani Kuna (Sejarah Eropa), bukan berdasar Taurat yang dibawa oleh Musa. Karena mereka telah mengalami “perubahan karakter” yang muncul dari rasa kebanggaan sejak kemenangan media terbesar bagi filsafat Yunani, yaitu “Olympiade” dimulai dari kota Olimpia Kuna pada 776 sebelum Masehi, kemudian memunculkan suatu peradaban yang mempunyai pandangan dunia tentang berbagai persoalan ras dan identitas, diri dan kebangsaan yang menjadi akar sejarah Eropa, walau jauh sebelum itu sudah mulai memperlihatkan sebagai bukti gambaran daripada sejarah Yunani Kuna. Maka ciri-ciri daripada peradaban Yunani adalah antara lain :
- Marjinalisasi kaum perempuan,
- Marjinalisasi orang-orang tua (lanjut usia),
- Marjinalisasi orang-orang yang miskin,
- Sebagai pemuja Maskulinitas,
- Sebagai pemuja Elitisme.
Dengan demikian maka menjadi jelas bahwa karakter Ahli Kitab dalam menepati “Agama Monotheistik” berkembang melalui cara-cara yang “tidak sesuai dengan pandangan mulia dari Nabi Musa sampai dengan Nabi Isa”, termasuklah orang-orang yang memahami Islam secara semangat buta lantaran sarat oleh tradisi luhur [Qs Luqman (31) : 21] dan atau mengikuti kebanyakan orang, bukan atas dasar dalil yang dibawa Nabi Muhammad [Qs Al-An’am (6) : 116]; maka pandangan akhir dari permasalahan tersebut dapat menimbulkan ketidakberesan dalam perselisihan tajam dan tak pernah berakhir bahkan menimbulkan penderitaan yang sangat luas.
Pembenahan Ummat
Di dalam teori menyatukan ummat, dengan mengingati bahwa tuntutan “pedoman pokok” adalah menuju Ummatan Wahidah, maka :
- Yang paling utama adalah menyadarkan tentang semangat Egalitarianisme melalui sekuen (pandangan) kronologis identitas, yaitu dengan memperhitungkan perjalanan Etnisitas, kemudian Agama, kemudian baru Nasionalitas. Dari sanalah mereka secara bertahap diajak untuk “berpikir” melalui proses pendekatan dan dakwah Islam secara terus-menerus, hal ini sangat penting, karena mempunyai sasaran ganda, yaitu disamping penerapan pewarnaan Islam maka juga untuk melindungi martabat suatu bangsa.
- Selanjutnya dalam menanggapi kesukuan, bahwa masyarakat suku mempunyai “faham romantik”, yaitu kesederhanaan, keberanian, dan rasa humor yang tidak mungkin mereka lepaskan. Bila hal tersebut dipertahankan melalui sosialisasi Al Qur-an, maka akan membuat “arus modernisasi tidak ada tempat bagi kesukuan”. Karena pada hakekatnya masyarakat kesukuan itu didalam menilai arti negara modern adalah biasa diartikan sebagai “eksploitasi, gangguan, penyakit dan obat terlarang”.
- Untuk menjadi bahan berfikir dan kesiapan mental, khususnya ummat Islam, bahwa sesungguhnya “tipe kolonialisme” yang berperadaban messianik (messy ; kotor, berantakan) yang diprakarsai oleh kaum rasionalisme, kaum modernis, dan kaum liberal bertujuan untuk menjajah fikiran dan jiwa serta budaya, dengan maksud akan dibawa menuju dunia yang tidak beradab sama sekali”. Hal tersebut dapat dibuktikan antara lain melalui media massa, elektronik, internet yang diinisiasi dan dimotori mereka bahwa :
- Iklan-iklan yang ditayangkan pada umumnya mencerminkan suatu usaha untuk menenggelamkan keshahihan dan kezuhudan, dan disamping itu juga dapat merusak dan merampas mahkota manusia yaitu martabat.
- Media-media Barat diberbagai variannya senantiasa menayangkan sikap-sikap asusila, sadisme, sikap-sikap ketidak sopanan yang provokatif yang disengaja untuk merusak Islam dan Ummat Islam.
- Kisah-kisah yang ditayangkan adalah pada umumnya berupa penonjolan sensualitas, berbagai pesona yang gemerlapan, pemujaan materialisme dan kehampaan. Hal ini membukatikan suatu ciri dari tokoh-tokoh yang jauh dari ideal masyarakat yang bermoral dan beragama, apalagi bila dipandang dari sudut pandang Hukum Islam.
Semoga dengan pembahatsan ini akan membuka wawasan tentang perjalanan sejarah ummat dari kurun ke kurun dan juga mendorong kemampuan untuk bertadabbur Al Qur-an, karena ia merupakan satu-satunya sumber motivasi bagi pembangunan ummat manusia.
*Lembar Kajian KADERISASI MUBALLIGH SUNNAH YPD AKUIS (NO S6.06.22.YPD.4523.026).


No responses yet